Episode 2 



"Pondasi yang mendasari pada Sila Pancasila"


1.1  DASAR TEORI

Hakikat Tuhan
Jika ditinjau dari Filsafat Ketuhanan
Hakikat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi, yaitu memakai apa yang disebut sebagai pendekatan filosofis.Jadi Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran para manusia dengan pendekatan akal budi tentang Tuhan.
Usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, namun mencari pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran tentang Tuhan.

Filsafat India Modern
            Rom Mohan Roy
 Beliau telah mendapat kesan Terhadap Keesaan Tuhan dalam Upanisad, Tuhan secara esensial itu Transeden dalam artian Tuhan pencipta Dunia namun keberadaannya sulit untuk digambarkan.

Konsep KeTuhanan
            Yang diperkenalkan bukan pada pentingnya nama  sebutan yang dikenakan akan tetapi lebih pada pengenalan terhadap Tuhan dengan kenyataan bahwa sudah selayaknya di puja sebagai suatu ada yang melampaui ruang dan waktu serta  demikian adanya.
            Hal tersirat dari hal ini adalah pengerahan selain yang bersifat vertikal secara implisit terdapat sebuah makna horizontal yang berpengaruh bagi dimensi sosiologis Kehidupan beragama

Davedranat fogorel
            Pencarian misteri Tuhan didasarkan pada ketidaktahuan tentang diri-Nya. Penegasan adalah dengan mempertanyakan apa sesengguhnya agama?, dan Apa sesungguhnya Tuhan, Dave menegaskan pula bahwa argumen logika ataupun bahasa tidak dapat mencapai Tuhan , pengalaman spontan yang menjawab pertanyaan tersebut. Namun Keingintahuan tentang Tuhan membutuhkan peran kejiwaan. Dengan patokan upanisad. Davedranat mengantarkan perhatian impersonal absolut, Namun dalam pernyataan lain Tuhan juga begitu dekat dengan kehidupan manusia.
Keberadaan Tuhan dalam peran dimensi kejiwaan. Ditentukan dala suatu sikap.

           
Konsep-Konsep penyebab kita harus berTuhan
           
Kita hidup di dunia ini penuh dengan problema/masalah yang menyertai kita, walau kita sendiri tidak menginginkan masalah itu terjadi. Kalau kita fikirkan secara seksama tanpa dengan mengedepankan nafsu, semua orang mempunyai rencana untuk masa depannya, tapi tidak sedikit pula kita jumpai mereka yang hidup tidak sesuai dengan apa yang di rencanakan.
Padahal akal yang fungsinya sebagai mesin untuk mewujudkan rencana adalah indra yang paling sempurna yang di miliki oleh manusia. dengan paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa ada yang mengatur semua kehidupan manusia yang tidak dapat di jangkau oleh akal manusia, hal inilah yang membuat manusia membutuhkan yang lain yang tidak bisa di jangkau oleh akal yang sebabnya tidak lain adalah sering melesetnya rencana yang telah matang-matang di persiapkan, dan semua orang tidak akan mengingkari hal ini. Secara pasti kita sebagai menusia mengakui kelemahan akal kita karena sering kali meleset/tidak seperti apa yang kita rencanakan.
            Dengan inilah kita sebagai manusia sangat membutuhkan yang lebih sempurna dari kita, yang bisa membuat kita tentram dan bahagia, dan mestinya yang kita butuhkan bukan yang lebih lemah dari kita, haruslah yang lebih kuat dan lebih sempurna dari kita. Hal inilah yang menyebabkan manusia membutuhkan hal sempurna yang mampu di buat sandaran dan di mintai pertolongan dan yang pasti tidak yang lebih lemah dari manusia, dan itulah yang kita sebut sebagai Tuhan.

Akal dan konsep Ketuhanan

Meskipun meyakini adanya Tuhan adalah masalah fithri yang tertanam dalam diri setiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingga mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta dan kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya fitrah mereka redup atau bahkan padam.

1.Burhan  Nidham (keteraturan)
            Burhan ini dibangun atas beberapa muqadimah (premis). Pertama, bahwa alam raya ini penuh dengan berbagai jenis benda, baik yang hidup maupun yang mati.
Kedua, bahwa alam bendawi (tabiat) tunduk kepada satu peraturan. Artinya, setiap benda yang ada di alam ini tidak terlepas dari pengaruh undang-undang dan hukum alam.
            Ketiga, hukum yang menguasai alam ini adalah hukum kausalitas (illiyyah), artinya setiap fenomena yang terjadi di alam ini pasti dikarenakan sebuah sebab (illat) dan tidak mungkin satu fenomena terjadi tanpa sebab. Dengan demikian, seluruh alam raya ini dan segala yang ada di dalamnya, termasuk hukum alam dan sebab akibat, adalah fenomena dari sebuah puncak sebab (prima kausa atau illatul ilal).
            Keempat, “sebab” atau illat yang mengadakan seluruh alam raya ini tidak keluar dari dua kemungkinan, yaitu “sebab” yang berupa benda mati atau sesuatu yang hidup.

 Kemungkinan pertama tidak mungkin, karena beberapa alasan berikut :
 Pertama, alam raya ini sangat besar, indah dan penuh keunikan. Hal ini menunjukkan bahwa “sebab” yang mengadakannya adalah sesuatu yang hebat, pandai dan mampu. Kehebatan, kepandaian dan kemampuan, merupakan ciri dan sifat dari sesuatu yang hidup. Benda mati tidak mungkin disifati hebat, pandai dan mampu.
            Kedua, benda-benda yang ada di alam ini beragam dan bermacam-macam, diantaranya adalah manusia. Manusia merupakan salah satu bagian dari alam yang paling menonjol. Dia pandai, mampu dan hidup. Mungkinkah manusia yang pandai, mampu dan hidup terwujud dari sesuatu yang mati .
Kesimpulannya, bahwa alam raya ini mempunyai ‘’sebab’’ atau ‘illat, dan ‘’sebab’’ tersebut adalah sesuatu yang hidup
.

Burhan  Al-Huduts (kebaruan)

            Al-Huduts atau Al-Hadits berarti baru, atau sesuatu yang pernah tidak ada kemudian ada. Burhan ini terdiri atas beberapa hal :
            Pertama, bahwa alam raya ini hadits, artinya mengalami perubahan dari tidak ada menjadi ada dan akhirnya tidak ada lagi.
            Kedua, segala sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada, tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti dia menjadi ada karena ‘’sebab’’ sesuatu.
            Ketiga yang menjadikan alam raya ini ada haruslah sesuatu yang qadim, yakni keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Keberadaannya kekal atau abadi. Karena, jika sesuatu yang mengadakan alam raya ini hadits juga, maka Dia-pun ada karena ada yang mengadakannya, demikian seterusnya (tasalsul). Tasalsul yang tidak berujung seperti ini mustahil. Dengan demikian, pasti ada ‘sesuatu’ yang keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan.

Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Sila Pertama dalam Pancasila

1.      Masing-masing bangsa Indonesia ber-Tuhan secara kebudayaan tanpa ada egoisme-agama dan secara berkeadaban yaitu hormat-menghormati satu sama lain agar tercipta kesatuan bangsa Indonesia yang sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia.
2.      Pemilihan kata Esa dalam kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa, Tuhan yang tunggal, tiada duanya, memiliki kekuasaan melebihi segalanya. Sebab jika Tuhan tidak tunggal dan justru ada 2 Tuhan atau lebih, poros keyakinan akan tak tentu arah. Harus ada satu yang paling berkua, sebab kata “paling” hanya ada satu yaitu Tuhan Yang Esa.
3.      Pancasila sebagai pemersatu perbedaan agama yang ada di Indonesia. sebab sila Ketuhanan Yang Maha Esa berarti negara mengakui setiap orang yang memercayai keberadaan Tuhannya sesuai apa yang di-imani.
4.      Pemilihan sila pertama dengan pemahaman Ketuhanan Yang Maha Esa ialah didasari oleh pemagaman nilai-nilai luhur pada KeTuhanan
Susunan Pancasila memiliki sifat majemuk atau tunggal yang merupakan satu kesatuan, dan bersifat dari umum ke khusus.
Pada sila pertama menjadi dasar dari sili berikutnya dan sila setelah sila pertama merupakan bentuk pengkhususan sila pertama. Pada sila pertma yang mendasari dari sila-sila berikutnya pada Pancasila yaitu berpokok dasr pada KeTuhanan. Dan unsur KeTuhanan di wadahi oleh  ajaran-ajaran keagamaan.
Namun beakangan ini marak pepecahan dilandasi perbedaan pemahaman dalam satu agama, selain daripada itu juga kelompok-kelompok yang tidakbertanggung jawab berbuat tidak sesuai kaidah keagamaan namun membawa dan mengatas namakan suatu agama. Kemudian aliran-aliran sesat yang bermunculan seperti  kelompok ISIS yang mengatasnamakan kelompok Jihad pada Allah SWT mengatsanamakan agam Islam atau contoh lain Saksi Yehova mencoreng nama agama Kristiani. Meskipun kita sebagai penganut agama resmi menyangkal hubungan antara aliran tersebut dengan agama yang kita anut, tapi bagi beberapa orang yang menelan informasi mentah-mentah mungkin akan membenci agama kita karena kehadiran aliran sesat tersebut.








           


0 comments:

Post a Comment

 
cinta untuk dunia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top